Gharwang 1

Zurmang Gharwang I – Trung Mase

Perwujudan pertama dari pelindung mulia yang dikenal sebagai Zurmang Gharwang, dapat ditelusuri kembali hinga abad ke14, yaitu pada era Gyalwa Karmapa V, Deshing Shegpa. Gharwang I ini dilahirkan sebagai Trung Mase, putra dari seorang terpelajar dari keluarga Mase yang terkenal di Minyak, Kham sebelah Timur.

Banyak tanda-tanda menakjubkan yang mengiringi kelahirannya, yaitu didaerah ini terang sekali, dipenuhi sinar dari langit. Langit juga dipenuhi oleh pelangi dan udara penuh dengan wewangian. Bahkan pada usia yang sangat muda, Trung Mase sudah dapat memperlihatkan sifat yang penuh kebijaksanaan spiritual. Pada masa itupun, ia sudah mengalami berbagai pertimbangan duniawi yang berhubungan dengan jalan spiritual.

Zurmang GharwangDiantara para guru yang pertama mendidiknya, ada seorang yang bernama Michok Kunchog Dorje, yang merupakan keturunan dari Chizchen. Darinya Trung Mase menerima banyak ajaran Kagyudpa dan Nyingmapa, termasuk 6 Yoga Naropa dan Khandro Nying-Thig (Intisari dari para Dakini). Ia dapat amat berhasil dalam jenis-jenis meditasi ini, sehingga banyak sekali kejadian-kejadian gaib yang muncul untuk meyakinkan pencapaiannya.

Keinginan untuk mencari ajaran mengenai kebebasan bathin ini, membawa Trung Mase ke Tsurphu, sebuah kota dekat Lhasa – Tibet, yang merupakan tempat kedudukan dari Yang Maha Suci Gyalwa Karmapa. Pada saat ia tiba di kota itu, Yang Mulia Gyalwa Karmapa V sedang membabarkan Dharma kepada penduduk setempat.

Dengan kebijaksanaan yang dimilikinya, Trung Mase merasakan bahwa Karmapa V sebenarnya adalah perwujudan dari Boddhisatva Manjushri, yang mengendarai Singa putih. Dan dengan berlalunya hari, dan dalam pelajaran mengenai intisari, beliau melihat Yang Mulia Gyalwa Karmapa V berubah bentuk menjadi Dorje Phagmo. Ia merasa begitu gembira dan bahagia, hingga akhirnya Trung Mase larut dalam samadhi dan bebas dari segala macam bentuk pikiran.

Pada saat Trung Mase mendekati Karmapa untuk meminta berkatnya, Gyalwa Karmapa V tiba-tiba mengulangi kembali ramalan tua dari guru besar India, Mahasiddha Tilopa, mengenai janji bahwa 13 generasi setelah Tilopa menerima ajaran yang diberikan langsung oleh Buddha Vajradhara, beliau akan kembali lagi melalui kelahiran agung.

Ajaran-ajaran ini membentuk suatu inti atas beberapa Garis Keturunan Suara Bisikan. Diantaranya adalah: Lautan Samvara, Lautan Vajra, Lautan Heruka, Lautan Para Dakini, Lautan Perbuatan dan Lautan Kegiatan. Dan juga ajaran Tantra dari Iyorwa Yeshi Khagyor, Tantra dari Heruka Bhadra, Tantra dari Nyingpo, Tantra dari para Vajra Dakini, Tantra dari Dechok Dorje Trengwa, Tantra dari Dakini Sangwai Zo, dan terakhir adalah Tantra dari Pemunculan Vajradhara.

Gyalwa Karmapa V mengenali bahwa Trung Mase yang masih sangat muda ini adalah perwujudan dari Yang Agung Tilopa, dan beliau menyatakan bahwa Trung Mase telah ditakdirkan menjadi pembawa Garis Keturunan Agung Zurmang Kagyud dan akan menjadi penyebar Dharma yang berhasil.

Yang Mulia Gyalwa Karmapa V menobatkan bhiksu muda ini secara pribadi dan memberikan sebuah nama: Mas Lodroe Rinchen Pal, yang berarti : “Permata Kebijaksanaan Yang Tak Ternilai”, seolah-olah sebagai antisipasi dari kebesarannya di kemudian hari.

Setelah itu, Lodroe Rinchen Pal menetap di kediaman guru utamanya (Root Guru) – Gyalwa Karmapa V, di Tsurphu, dan menerima secara langsung penguatan-penguatan, transmisi ajaran- ajaran penting Kagyud, yang didalamnya terdapat : Ajaran tertinggi dari 6 Yoga Naropa, Filsofi Mahamudra Tilopa, Instruksi lisan atas mantra rahasia. Beliau juga menerima secara penuh dan lengkap instruksi lisan dari Tradisi Zurmang Kagyud.

Selama 10 tahun yang panjang, Trung Mase melatih diri dalam pengasingan dan kondisi yang sangat keras. Sebagai hasilnya, beliau muncul sebagai murid Gyalwa Karmapa V yang memiliki kesadaran spiritual tertinggi. Karena usaha belajar dan penembusannya yang begitu luar biasa, akhirnya beliau menjadi terkenal dengan sebutan Dubchen Mase. Kata Dubchen dalam bahasa Tibet berarti “Orang yang Sangat Suci” dan sama artinya dengan Mahasidha dalam bahasa Sangsekerta.

Trung Mase LineageKemudian atas perintah dari Gyalwa Karmapa V, Dubchen Mase pindah ke Kham untuk membantu semua mahluk disana. Beliau diminta secara tidak langsung untuk mendirikan suatu Monastri di tempat tertentu, yaitu harus terletak diantara dua jalur sungai besar yang melengkung sebelum mengalir menuruni bukit, dimana tanah lokasinya menyerupai kuda merah yang terbuka. Menurut ramalan dari Dorje Narjolma, tempat ini sangat tepat untuk tempat kediaman dari Cakrasambhava, dan diberkati oleh para dewa yang menjamin akan keberhasilan latihan praktek agama.

Dengan senantiasa mengingat instruksi tersebut didalam bathinnya, Dubchen Mase merantau ke seluruh Tibet untuk menemukan lokasi yang tepat. Dan akhirnya tibalah beliau di suatu lembah yang indah di daerah Yoshung, dan beliau mengetahui dalam hatinya bahwa akhirnya beliau telah menemui tempat yang diceritakan gurunya.

Untuk meyakinkan bahwa lokasi ini benar, maka beliau mengelilingi desa kecil ini dengan membawa sebuah mangkuk ditangannya, sambil menyanyikan Arya Manjushri Namosamgita (lagu memuja Yang Mulia Manjushri). Ketika ia sampai pada kalimat yang berbunyi Chokgyi Gyaltshen Legpa Dzug (yang berarti : Terbang tinggi bersama panji-panji Buddha Dharma), seorang wanita keluar dari rumahnya dan menawarkan untuk mengisi mangkuknya dengan makanan. Beliau menangkap maksud baik ini sebagai suatu tanda yang sempurna dan bernilai untuk masa yang akan datang, dan kemudian beliau memutuskan untuk membuka suatu pusat retret di daerah itu.

Sebelum pembangunan dimulai, Dubchen Mase mengadakan banyak puja dan melakukan banyak persembahan Torma untuk menyenangkan para dewa pelindung daerah tersebut. Dari 4 penjuru, mata air muncul dari dalam tanah. Para dewa kebijaksanaan dan dewa-dewa duniawi muncul secara ajaib dan memberikan persembahan yang banyak kepada Dubchen Mase, mengisyaratkan dukungan yang tidak terputus untuk memenuhi cita-cita beliau.

Pada suatu kesempatan, ketika Dubchen Mase bertanya kepada para pembantunya, dimana mereka meletakkan torma-torma tersebut, dan jawaban yang diterimanya adalah “Ditempat yang memiliki sudut”. Inilah asal dari nama Zurmang Monastri. Zurmang sendiri berarti “Banyak Sudut”.

Pada usia 43 tahun, ketika beliau hampir tiba pada akhir kegiatannya, Dubchen Mase menyatakan bahwa beliau akan mencapai penerangan di Tanah Suci Bon Nyen Dang, dimana udaranya penuh dengan wewangian.

Setelah itu, secara ajaib beliau menghilang dan menjadi seberkas cahaya, dan hanya meninggalkan rambut dan kuku jarinya sebagai tanda bahwa beliau telah wafat. Kelak beliau dikenal sebagai Mkha'spyod-pa (orang yang pergi ke surga).